Setelah beberapa kali membahas tentang self-esteem, mungkin muncul pertanyaan yang lebih sederhana:
“Sebenarnya, self-esteem itu apa?”
Ternyata, istilah ini tidak mudah diterjemahkan ke dalam satu kata dalam bahasa Indonesia.
Kita mungkin mengenalnya sebagai percaya diri, menghargai diri sendiri, atau menghormati diri sendiri. Tetapi istilah-istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang tidak sepenuhnya sama dengan self-esteem.
Self-confidence, self-worth, self-respect, dan self-esteem memang terdengar mirip. Namun, masing-masing mempunyai penekanan yang berbeda.
Karena itu, daripada sibuk mencari satu kata yang paling tepat untuk menerjemahkannya, menurutku akan lebih mudah kalau kita memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan self-esteem.
Bagaimana Kita Memandang Diri Sendiri?
Secara sederhana, self-esteem berkaitan dengan bagaimana kita menilai, menghargai, dan memandang diri kita sendiri.
Bukan hanya bagaimana kita melihat penampilan atau kemampuan kita, tetapi juga bagaimana perasaan kita terhadap diri sendiri secara keseluruhan.
Misalnya, ketika melakukan kesalahan, apa yang biasanya kita katakan kepada diri sendiri?
Apakah kita langsung berpikir:
“Aku memang bodoh.”
atau kita bisa mengatakan:
“Aku melakukan kesalahan, tapi aku masih bisa belajar dan memperbaikinya.”
Dua orang bisa mengalami kegagalan yang sama, tetapi memberikan penilaian yang sangat berbeda terhadap dirinya sendiri.
Di situlah self-esteem ikut berperan.
Sederhananya, self-esteem bisa kita lihat sebagai gambaran tentang seberapa jauh kita merasa bahwa diri kita berharga, layak dihargai, dan pantas diperlakukan dengan baik.
Dari Mana Self-Esteem Kita Terbentuk?
Yang menarik, cara kita memandang diri sendiri ternyata tidak muncul begitu saja.
Ada banyak hal yang dapat ikut membentuk self-esteem seseorang.
Pengalaman yang kita lalui sejak kecil, kepribadian, kondisi kesehatan, lingkungan sosial, cara orang lain memperlakukan kita, bahkan kebiasaan kita dalam membandingkan diri dengan orang lain, semuanya bisa memberikan pengaruh.
Cara kita berpikir juga tidak kalah penting.
Kadang-kadang, bukan keadaan sebenarnya yang membuat kita merasa tidak berharga, tetapi cara kita menafsirkan keadaan tersebut.
Misalnya, melihat orang lain berhasil bisa menjadi motivasi bagi seseorang.
Tetapi bagi orang lain, hal yang sama justru bisa memunculkan pikiran:
“Kenapa dia bisa, sedangkan aku tidak?”
Lama-kelamaan, kebiasaan membandingkan diri seperti ini bisa membuat kita lupa melihat perjalanan kita sendiri.
Kita hanya melihat pencapaian orang lain, sementara perjuangan diri sendiri justru kita anggap biasa saja.
Jadi, Self-Esteem Bukan Sekadar Percaya Diri
Semakin membaca tentang self-esteem, aku merasa istilah ini memang lebih luas daripada sekadar percaya diri.
Percaya diri bisa muncul ketika kita merasa mampu melakukan sesuatu.
Sedangkan self-esteem lebih menyentuh pertanyaan yang lebih dalam:
“Bagaimana aku memandang diriku sendiri, terlepas dari apa yang sedang aku capai?”
Aku bisa saja tidak percaya diri ketika mencoba sesuatu yang baru.
Aku bisa merasa takut.
Aku bisa gagal.
Aku bahkan bisa merasa belum cukup baik.
Tetapi semua itu tidak harus membuatku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga.
Mungkin justru di situlah salah satu bagian penting dari self-esteem: belajar memisahkan antara “aku melakukan sesuatu yang salah” dengan “aku adalah orang yang salah.”
Kesalahan adalah bagian dari perjalanan.
Kegagalan juga bagian dari proses.
Dan pencapaian bukan satu-satunya hal yang menentukan nilai diri seseorang.
Pada akhirnya, memahami self-esteem mungkin adalah bagian dari proses untuk mengenal diri sendiri dengan lebih jujur—melihat kelebihan tanpa menjadi sombong, menerima kekurangan tanpa membenci diri sendiri, dan belajar memperlakukan diri dengan lebih baik.
𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂
Sumber bacaan:
Buku [Orang sukses selalu cari solusi, Orang gagal selalu cari alasan] — [@rumputjeruk].
Tulisan ini merupakan pemahaman dan refleksi pribadi setelah membaca bagian tersebut, ditulis kembali dengan bahasa sendiri.
Komentar
Posting Komentar