Langsung ke konten utama

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 53 - Perpisahan Antara Orang-Orang yang Beriman dengan Orang-Orang Munafik

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ...


الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين

ꜜꜜꜜ

    Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang beriman akan mengikuti Allah Subhānahu wa Ta’ālā dan akan dibentangkan Ash Shirath (jembatan) di atas neraka. Sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

⚛ Keadaan saat itu gelap gulita.
    Seorang Yahudi pernah bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Di manakah manusia pada hari di mana bumi dan langit diganti?”
    Beliau Shalallahu ‘alayhi wassallam mengatakan:
“Di tempat yang gelap sebelum jembatan.” (Hadits shahih riwayat Muslim)

⚛ Kemudian, orang-orang yang beriman akan diberikan cahaya.
    Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani di dalam Al Mu’jamul Kabir dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu bahwasanya Rasulullah h shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Maka Allah memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka".

  • Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya, dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.
  • Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya, dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.
  • Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam.
Apabila menyala maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan. Dan apabila padam dia berdiri.”

⇝ Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang Muslim.
Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwasanya:
 Orang-orang munafik juga akan diberi cahaya dan akan mengikuti Allah, namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.

    Allah Subhānahu wa Ta’ālā menceritakan di dalam surat Al Hadid 12-15, yang artinya:
“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.
    Dikatakan kepada mereka:
‘Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya, itulah keberuntungan yang besar.’
    Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan wanita berkata kepada orang-orang yang beriman:
‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian.’
    Dikatakan kepada orang-orang munafik:
‘Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.’
    Lalu dibuatlah diantara orang-orang yang beriman dengan orang-orang munafik sebuah dinding yang memiliki pintu, di sebelah dalamnya (yaitu sisi orang-orang yang beriman) ada rahmat dan di sebelah luarnya (yaitu sisi orang-orang munafik) ada siksa.
    Orang-orang munafik memanggil orang-orang yang beriman seraya berkata:
‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?’


 Maksudnya: bersama orang-orang yang beriman secara zhahir.


    Orang-orang yang beriman menjawab:
‘Benar, akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri (yaitu dengan kenifakan kalian) dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah Subhānahu wa Ta’ālā dan penipu (yaitu syaithan) telah datang memperdaya kalian tentang Allah.
Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kafir.
Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

    Demikianlah orang-orang munafik kembali tertipu; mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama orang-orang yang beriman namun ternyata persangkaan mereka salah.

 Orang-orang yang beriman ketika melihat cahaya orang-orang munafik padam, mereka berdo’a kepada Allah:

رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬
“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.” (QS At Tahrim: 8)

    Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan juga Tirmidzi, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya:
“Orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam (yaitu untuk melakukan shalat berjama’ah) maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.”

 Di antara usaha seorang Muslim untuk menghilangkan kenifakan adalah menjaga shalat lima waktu secara berjamaah.

    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ‘ula (yaitu takbiratul ihram) maka dia akan terlepas dari dua perkara; terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifakan.” (Hadits hasan riwayat Tirmidzi).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

** Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

و السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIYADHUSH SHALIHIN - BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DALAM SEGALA PERBUATAN, PERKATAAN, DAN KEADAAN, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Referensi penjelasan detail : Ust.Khalid Basalamah        Ust. Syafiq Riza Basalamah ~~~~~~~~      Allah Ta'ala berfirman : وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ   ۝٥ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan²⁴ agama (ketaatan) kepadaNya juga menjadi orang-orang yang lurus,²⁵ dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikkan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Qs. Al-Bayyinah : 5). ___ ²⁴ Saya katakan, Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya niat dalam seluruh ibadah, baik ibadah tersebut memang tujuan utama seperti shalat misalnya, maupun hanya sebagai perantara untuk ibadah lainnya seperti bersuci. Hal itu karena ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat. Ini adalah madzhab mayoritas ulama, dan inilah yang benar, yang tidak ada keraguan tentangnya. ___ ²⁵ Y...

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 14 - Tanda-Tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah 10 tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul 10 tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain. Suatu saat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat para Shahābat sedang saling berbicara.      Maka Beliau bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”      Merekapun menjawab, “Kami sedang mengingat hari kiamat.”      Maka, Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ “Sesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut sampai kalian melihat sebelumnya 10 tanda-tanda.” Kemudian Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyebutkan 10 tanda tersebut. Asap Dajjal Daabbah (seekor hewan melata) Terbitnya...

#I.1 BERHENTI MENJADI "PEOPLE PLEASER !" - Tentang Kapan Harus Peduli dan Kapan Harus Tidak Ambil Pusing

Ajukan pertanyaan berikut kepada diri sendiri : Apakah saya stres, memiliki jadwal yang terlalu padat, dan/ atau merasa kewalahan ? Jika jawabannya "ya" untuk yang mana pun, berhentilah sejenak dan tanyakan : Mengapa ? Saya berani menebak jawaban yaitu : karena Anda terlalu banyak ambil pusing. Atau, lebih spesifik, karena Anda berpikir Anda wajib memusingkan semuanya. Saya siap membantu. Di sepanjang Artikel ini dan lanjutannya, Anda akan melihat istilah ambil pusing digunakan dalam dua cara : * Ada makna tidak formal dari sikap peduli terhadap sesuatu, yang dipertimbangkan untuk Langkah 1 (memutuskan apa yang tidak usah Anda pusingkan). * Ada makna harfiah dari sikap sungguh peduli kepada seseorang atau sesuatu, dalam bentuk waktu, energi, dan/ atau uang. Ini dipertimbangkan untuk Langkah 2 (tidak ambil pusing tentang semua itu). Dalam kedua makna tadi, cara satu-satunya untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik adalah dengan berhenti ambil pusing atas banyak di antarany...