Langsung ke konten utama

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 40 - Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa)

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ...


الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين

ꜜꜜꜜ

   Seorang yang beriman kepada hari akhir dan beriman bahwasanya kelak akan dihisab, maka hendaklah dia:

  1. Memohon rahmat dari Allah Subhānahu wa Ta’āla.
  2. Kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin.

Diantara caranya:
➠ Pertama, Menjaga tauhid, yang merupakan:

  • Hasanah (kebaikan) yang paling besar.
  • Pondasi bagi hasanah yang lain.
  • Sebab diampuninya dosa seseorang.

 Ke Dua, Mencari amalan yang paling afdhal.
Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan hasanah yang banyak. Yang demikian karena kita sangat butuh dengan hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas.

Amalan yang paling afdhal setelah Rukun Islam dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, ada 3 amalan:

  1. Menuntut ilmu agama.
  2. Jihad fi sabilillah.
  3. Dzikrullah yang dilakukan dengan khusyu’ di sebagian besar waktunya.

    Amalan yang wajib lebih afdhal dan lebih besar pahalanya daripada amalan yang sunnah.
Amalan yang wajib ‘ain (yaitu yang wajib atas semuanya) lebih afdhal dari pada amalan yang wajib kifayah (yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain).
    Kewajiban yang berkaitan dengan hak Allah lebih afdhal dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak makhluk.

 Amalan yang lebih afdhal adalah amalan yang dilakukan dengan:

  • Lebih ikhlash.
  • Lebih mengikuti sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

    Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhal dari pada amalan yang banyak tapi terputus.

    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).

Terkadang sebuah amalan afdhal bagi sebagian, namun belum tentu afdhal bagi yang lain.

    Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhal daripada amalan yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri, contohnya seperti shadaqah dan dakwah fi sabilillah.

    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya;
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (Hadits shahih riwayat Muslim)

    Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhal, seperti amalan yang dikerjakan di bulan Ramadhan dan amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah.

    Sebagian amalan lebih afdhal dikerjakan di tempat mulia tertentu, seperti shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.

 Ke Tiga

  • Memanfaatkan kenikmatan Allah yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin.
Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara, dan lain-lain.

  • Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan niat yang benar yaitu untuk mencari pahala Allah Subhānahu wa Ta’āla.

    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang.” (Hadits shahih riwayat Bukhari).

    Di dalam hadits yang lain Beliau Shalallahu ‘alayhi wassallam mengatakan yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang-orang yang sedikit hasanahnya pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kekayaan kemudian bershadaqah kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan, dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik" (Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim).

 Ke Empat
    Memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla. Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Allah.

Dan syarat diterimanya amalan ada 2 yaitu:

  1. Ikhlas
  2. Sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

 Ke Lima
    Bertaubat dari dosa yang diiringi dengan iman dan amal shalih. Karena barangsiapa yang melakukan yang demikian itu maka dosanya akan diganti dengan hasanah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan bahwasanya,

  • Orang yang menyekutukan Allah Subhānahu wa Ta’āla.
  • Membunuh jiwa tanpa haq.
  • Berzina
Maka mereka akan mendapatkan adzab yang pedih di hari kiamat, kecuali apabila dia:
  • Bertaubat
  • Beriman
  • Mengerjakan amal shalih
Maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan. (QS Al Furqan: 68-70)

 Ke Enam
Memperbanyak istighfar.
⇒ Setiap:

  • Melakukan dosa, atau
  • Kurang bersyukur atas nikmat, atau
  • Kurang dalam melakukan kewajiban atau,
  • Lalai dari mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا
“Tuba bagi orang yang menemukan di dalam kitabnya istighfar yang banyak.”
(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah)

⇒ Tuba:

  • Ada yang mengatakan maknanya adalah surga.
  • Ada yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.

 Ke Tujuh
    Tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
    “Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung Tihamah. Maka Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang sifat mereka.
    Maka Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita, shalat malam sebagaimana kita shalat malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharamkan, mereka pun melanggarnya.
(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah)

 Ke Delapan, Bersabar atas musibah dan ujian.
    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نفسه وولده وماله حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Senantiasa ujian menimpa seorang Mu’min dan Mu’minah di dalam dirinya, anaknya, dan juga hartanya sampai dia bertemu Allah Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak memiliki dosa.” (HR Tirmidzi)

Di dalam hadits yang lain, Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:
“Ketika orang-orang yang terkena musibah di dunia mendapatkan pahala pada hari kiamat, maka ahlul ‘afiyah (orang-orang yang tidak banyak terkena musibah) akan berkeinginan seandainya kulit-kulit mereka digunting di dunia." (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi)

    Yang demikian karena mereka melihat besarnya pahala orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬
“Sesungguhnya akan disempurnakan pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10)

 Ke Sembilan, 

Beramal shalih secara umum berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
⇒ Seperti membaca Al Qur’an, berpuasa, dan lain-lain.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah yaitu Al Qur’an, maka setiap huruf dia akan mendapatkan satu hasanah. Dan satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah". (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi).

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya,
“Setiap amalan anak Adam, satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah sampai tujuh ratus. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla dan Dia-lah yang akan membalasnya". (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim).

Mintalah senantiasa kepada Allah pertolongan di dalam beramal.
Beramallah sebaik mungkin dan mohonlah kepada Allah supaya diterima.

Dan ketahuilah bahwasanya amal kita hanyalah sebab dan bukan pengganti kenikmatan surga dan keselamatan dari neraka.

Seandainya seseorang beramal semaksimal mungkin, sebaik-baiknya selama hidupnya, niscaya tidak cukup untuk membalas kenikmatan Allah di dunia, maka bagaimana dengan kenikmatan akhirat?

Rahmat atau kasih sayang dan anugerah Allah-lah yang lebih kita harapkan.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Amalan seseorang tidaklah memasukkan dia ke dalam surga. Para sahabat berkata, “Tidak juga engkau ya Rasulullah?” Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Tidak juga saya, kecuali Allah Subhānahu wa Ta’āla melimpahkan kepadaku anugerah dan rahmatNya.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

** Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

و السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIYADHUSH SHALIHIN - BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DALAM SEGALA PERBUATAN, PERKATAAN, DAN KEADAAN, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Referensi penjelasan detail : Ust.Khalid Basalamah        Ust. Syafiq Riza Basalamah ~~~~~~~~      Allah Ta'ala berfirman : وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ   ۝٥ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan²⁴ agama (ketaatan) kepadaNya juga menjadi orang-orang yang lurus,²⁵ dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikkan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Qs. Al-Bayyinah : 5). ___ ²⁴ Saya katakan, Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya niat dalam seluruh ibadah, baik ibadah tersebut memang tujuan utama seperti shalat misalnya, maupun hanya sebagai perantara untuk ibadah lainnya seperti bersuci. Hal itu karena ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat. Ini adalah madzhab mayoritas ulama, dan inilah yang benar, yang tidak ada keraguan tentangnya. ___ ²⁵ Y...

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 14 - Tanda-Tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah 10 tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul 10 tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain. Suatu saat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat para Shahābat sedang saling berbicara.      Maka Beliau bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”      Merekapun menjawab, “Kami sedang mengingat hari kiamat.”      Maka, Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ “Sesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut sampai kalian melihat sebelumnya 10 tanda-tanda.” Kemudian Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyebutkan 10 tanda tersebut. Asap Dajjal Daabbah (seekor hewan melata) Terbitnya...

#I.1 BERHENTI MENJADI "PEOPLE PLEASER !" - Tentang Kapan Harus Peduli dan Kapan Harus Tidak Ambil Pusing

Ajukan pertanyaan berikut kepada diri sendiri : Apakah saya stres, memiliki jadwal yang terlalu padat, dan/ atau merasa kewalahan ? Jika jawabannya "ya" untuk yang mana pun, berhentilah sejenak dan tanyakan : Mengapa ? Saya berani menebak jawaban yaitu : karena Anda terlalu banyak ambil pusing. Atau, lebih spesifik, karena Anda berpikir Anda wajib memusingkan semuanya. Saya siap membantu. Di sepanjang Artikel ini dan lanjutannya, Anda akan melihat istilah ambil pusing digunakan dalam dua cara : * Ada makna tidak formal dari sikap peduli terhadap sesuatu, yang dipertimbangkan untuk Langkah 1 (memutuskan apa yang tidak usah Anda pusingkan). * Ada makna harfiah dari sikap sungguh peduli kepada seseorang atau sesuatu, dalam bentuk waktu, energi, dan/ atau uang. Ini dipertimbangkan untuk Langkah 2 (tidak ambil pusing tentang semua itu). Dalam kedua makna tadi, cara satu-satunya untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik adalah dengan berhenti ambil pusing atas banyak di antarany...