Langsung ke konten utama

14.4 - BANGUN KESHALIHAN PRIBADI || LAPANG DADA MENAMPUNG PERBEDAAN

 Artikel ini merupakan REWRITE dari buku Best Seller  "ZERO to HERO (Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa)"

Penulis - Solikhin Abu Izzudin

╼╾

Lapang dada menampung perbedaan

    Tradisi Islam adalah berlomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Semangat ini kadang melahirkan adanya perbedaan. Hal itu karena mereka didorong untuk berprestasi yang terbaik. Munculnya sholat tarawih 20 rakaat yang dipelopori oleh Umar bin Khathab misalnya. Bagi kalangan sahabat itu berbeda tapi tidak menjadi bahan untuk pecah. Karena semangatnya adalah semangat memperbanyak amal, bukan dorongan mencari yang paling benar. Bukan. Mereka lapang terhadap perbedaan.

    Beda tafsir terhadap pesan Nabi, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali bila telah sampai di perkampungan Bani Quraidhah" adalah contoh paling monumental bagaimana para sahabat mengelola perbedaan tanpa melahirkan perpecahan. Permasalahan umat Islam sekarang bukannya berlomba dan berprestasi dalam beramal tapi hobi mengklaim dan mendeklarasikan bahwa dirinya dan kelompoknyalah yang paling benar.  

    Memangnya yang lain salah semua ? Lalu mengapa di jaman sahabat ada qira'ah sab'ah, bacaan qur'an dengan tujuh dialek dan itu sah? Inilah kuncinya : membangun sikap lapang dalam perbedaan. "Rekaat boleh beda, yang penting ukhuwah tetap dijaga." Begitu bukan, wahai para pahlawan pelopor persatuan perekat ukhuwah.

    Orientasi orang shalih bukanlah merasa paling benar amalnya, sehingga tidak haram bila ada mazhab fiqh yang diakui sebagai khazanah umat Islam. Salafus shalih berorientasi bagaimana menjadi yang paling baik amalnya, ahsanu 'amala.

    Mereka pun berlomba. Berlomba untuk menjadi yang terbaik tanpa merasa yang paling baik. Berprestasi besar tanpa merasa besar. Masing-masing cara mereka beda, yakni amal yang tepat pada saat tepat. Amal utama pada waktu utama. Amal mulia yang mengangkat kemuliaan jiwa.

    Mereka pun berhati agar niat mulia tak merusak suasana, karenanya cara mereka pun bijak. Misalnya membaca Qur'an. Itu adalah amal mulia, tak ada orang yang meragukannya. Akan tetapi semulia-mulianya amal ini tidak boleh menimbulkan gangguan, mengusik ketenangan orang-orang yang tertidur. Tak menggelisahkan orang yang tengah istirahat. Di sini berlaku keshalihan diri : sikap tasamuh, yaitu semangat toleransi dan menghargai hak-hak orang lain. Dalam peradaban Islam para Iman mahzab masing-masing memiliki keunggulan dan perbedaan. Uniknya mereka begitu akrab satu sama lain, ada semangat saling belajar, diskusi dan saling menghargai.

    Keshalihan pribadi yang dibangun atas dasar toleransi tak sempat menyisakan dendam. Jiwanya bersih dari kedengkian. Bahkan kesalahan saudaranya jauh-jauh hari telah ia maafkan. Ia bershadaqah dengannya. Inilah potret keshalihan yang benar-benar bersih sehingga memudahkan pintu surga baginya. Itulah diantara sebab masuk surganya orang yang ibadahnya biasa, tapi hatinya bersih sebening kaca. Luar biasa.

    Sebaiknya bila kekotoran hati yang mendominasi, maka ia tak sempat untuk membikin prestasi. Sebab ia sibuk untuk mengorek borok orang lain sehingga lupa pada diri sendiri. Bahaya penyakit jiwa bisa menggelincirkan ke dalam neraka, meski ibadah bertumpuk begitu banyaknya. Karena "dengki bisa menghanguskan amal sebagaimana api yang membakar kayu bakar."

    Alangkah indahnya bila malam-malam kita adalah shadaqah buat saudara kita : perbanyak maaf buat sahabat. Barangkali mereka salah dan tidak menyadari. Bisa jadi mereka ghibah tanpa meras. Mungkin ada yang menyebar sedang mereka tak mengetahuinya. Apa salahnya dan susahnya bila kita membuka diri, melapangkan dada. Memberi maaf itu gratis, tak perlu beli. Allah mengajarkan kebaikan ini kepada Nabi-Nya, mengapa kita tak meneladaninya ?

    "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. /karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ..." (Qs. Ali Imran : 159)


Next Episode → 14.5 - BANGUN KESHALIHAN PRIBADI || RESPEK TERHADAP KEUNIKAN ORANG LAIN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 25 - Meninggalnya Orang-Orang Beriman Sebelum Hari Kiamat, Terbenamnya Tanah di Tiga Tempat dan Keluarnya Api dari Yaman

  السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ      Sebelum terjadinya hari kiamat, Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mengirim angin yang mencabut nyawa semua orang yang beriman, sehingga tidak tersisa di dunia kecuali sejelek-jelek manusia.      Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Kemudian Allah akan mengutus angin yang dingin dari arah Syam maka tidak ada seorang pun di bumi yang di dalam hatinya ada kebaikan atau iman meski sebesar biji sawi kecuali akan dicabut nyawanya oleh angin tersebut. Sampai seandainya salah seorang mereka masuk ke dalam gunung, niscaya angin tersebut akan masuk bersamanya dan mencabut nyawanya. Maka tersisalah sejelek-jelek manusia yang ringan berbuat kerusakan seperti ringannya burung dan mereka ganas dalam berbuat kezhaliman satu dengan yang lain seperti ganasnya hewan buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.” ...

RIYADHUSH SHALIHIN - BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DALAM SEGALA PERBUATAN, PERKATAAN, DAN KEADAAN, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Referensi penjelasan detail : Ust.Khalid Basalamah        Ust. Syafiq Riza Basalamah ~~~~~~~~      Allah Ta'ala berfirman : وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ   ۝٥ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan²⁴ agama (ketaatan) kepadaNya juga menjadi orang-orang yang lurus,²⁵ dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikkan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Qs. Al-Bayyinah : 5). ___ ²⁴ Saya katakan, Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya niat dalam seluruh ibadah, baik ibadah tersebut memang tujuan utama seperti shalat misalnya, maupun hanya sebagai perantara untuk ibadah lainnya seperti bersuci. Hal itu karena ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat. Ini adalah madzhab mayoritas ulama, dan inilah yang benar, yang tidak ada keraguan tentangnya. ___ ²⁵ Y...

HSI-SILSILAH 01- HALAQOH 18 - MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG

  السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته   ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ     Bintang adalah makhluk yang menunjukkan kebesaran Allah penciptanya, Allah telah mengabarkan di dalam Al-Qur'an bahwa bintang ini memiliki 3 faedah : Sebagai perhiasan langit, Sebagai pelempar setan, Sebagai petunjuk manusia, seperti ; Mengetahui arah utara atau selatan, Mengetahui arah daerah, Arah kiblat, atau Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan, Dan lain-lain      Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menciptakan bintang pun perkara yang lain selain 3 perkara yang di atas.     Seorang salaf Qotadah bin Di'amah As-Sadusi Rahimahullah seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 Hijriah, beliau menjelaskan bahwa ;  " Barangsiapa yang meyakini bintang memiliki faedah yang laen selain 3 hal di atas, maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu ". Ucapan ini dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari...