Langsung ke konten utama

5.1 - MENGAPA KITA SERING KEHILANGAN MOMENTUM ?

 Artikel ini merupakan REWRITE dari buku Best Seller  "ZERO to HERO (Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa)"

Penulis - Solikhin Abu Izzudin

╼╾

"Momentum tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya..."

Ibnu Rajab berkata, "Barang siapa yang memelihara ketaatan kepada Allah di masa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya di saat tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberi kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal."

Waktu kita sedikit ...

Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan, "Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika anda punya kepentingan atau tugas selesaikan segera."

Perkataan ini menggambarkan betapa sedikitnya waktu kita dibandingkan dengan "pekerjaan besar" yang harus dikerjakan, amanah mulia yang harus di tunaikan, obsesi besar yang mesti direalisasikan. Akan halnya kita, kadang tak merasa memiliki sebuah kewajiban sehingga banyak waktu dibuang-buang, kesempatan dilelang, momentum ditendang, nasehat ditentang, sehingga kebaikan pun melayang. Ironisnya kita sering beralasan dan mengeluh karena banyaknya beban dan tak mampu menunaikan kewajiban, lalu waktulah yang di salahkan. Padahal itu terjadi lebih karena kita tak menata waktu dengan cermat, suka menunda-nunda pekerjaan sehingga tak mampu menolong diri sendiri apalagi membantu orang lain.

 Menurut Hasan Al Basri, waktu hanya ada tiga. Waktu kemarin yang sudah bukan milik kita lagi. Esok hari yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang yang ada di tangan kita.

Sadarilah bahwa waktu kita sedikit. Imam Sofyan Ats Tsauri mengatakan, "Sesungguhnya aku sangat menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku seperti Ibnu Mubarak. Tapi aku tidak mampu melakukannya. Bahkan dalam tiga hari sekalipun." (Nuzhatul Fudhala, 2/655 - dari buku Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga)

Mengapa Sofyan Ats Tsauri mengatakan hal itu ? Padahal ia adalah ulama yang terkenal luar biasa dalam beribadah sampai-sampai ada salah seorang salaf di zamannya yang mengatakan, "Sofyan itu di zamannya seperti Abu Bakar dan Umar di zamannya."

Bagaimana lagi dengan "kualitas ibadah" Ibnu Mubarak yang dirindukan oleh Sofyan tersebut?

Begitulah cara salafus shalih memandang berharga waktu dalam kehidupannya, menyadari sedikitnya kesempatan yang tersedia untuk bisa memperbanyak ibadah kepada Rabbnya. Mereka berlomba-lomba di zamannya untuk menjadi yang terbaik. Berprestasi untuk mengukir amal mulia. Bekerja keras untuk merintis amal unggulan. Berpikir cerdas untuk mempelopori kebaikan.

Kebiasaan manusia-manusia besar adalah mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Mereka menyedikitkan waktu tidur untuk bisa bangun malam. Mereka sedikit bercanda untuk merasakan nikmatnya ibadah. Mereka tidak berlebihan dalam bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Mereka menahan diri dari maksiat agar tubuhnya tetap sehat.

Ibnu Rajab berkata, "Barang siapa yang memelihara ketaatan kepada Allah di masa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya di saat tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberi kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akanl."

Ibnu Rajab lalu menceritakan, ada sebagian ulama yang usianya melewati 100 tahun tetapi tetap kuat dan tajam pikiran serta daya ingatnya. Ia bahkan masih tegap berjalan dan mampu meloncat. Salah seorang dari mereka mengatakan. "Anggota tubuh ini dahulu kami pelihara dari kemaksiatan, maka Allah memeliharanya untuk kami di kala kami tua." (Jami'ul 'Ulum wal Hikam, 226)

Dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi'iyyah oleh Imam As-Subkiyah juz 3 hal.219 disebutkan bahwa Al Imam Az-Zahid Syaikh Abdul Baqi bin Yusuf mengatakan, "Aku lebih mencintai duduk sejenak di masjid ini daripada menjadi raja iraq."

Dan di dalam kitab Wafayatul A'yar Ibnu Khalkan juz 2 hal.401 disebutkan bahwa Imam Al A'masy diberi umur panjang 70 (tujuh puluh) tahun. Dan ia tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram shalat jamaah. Perawi menjelaskan, "Saya bergaul dengan beliau lebih dari 60 (enam puluh) tahun. Belum pernah aku melihatnya melanjutkan satu rekaat karena ketinggalan atau masbuk."

Karena waktu kita sedikit, kesempatan yang ada di dunia ini begitu sempit, mengapa kita tidak mengoptimalkannya untuk menjadi bekal di masa-masa sulit di hari di mana tiada lagi berguna harta dan anak-anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Mengapa kita tidak menyiapkan hari yang tiada lagi naungan kecuali naungan-Nya ? Mengapa kita masih saja tulalit ? Lalu mengapa kita sering kehilangan momentum ?


Next Episode → 5.1 - MENGAPA KITA SERING KEHILANGAN MOMENTUM ? || Kurang Sensitif terhadap kebaikan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIYADHUSH SHALIHIN - BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DALAM SEGALA PERBUATAN, PERKATAAN, DAN KEADAAN, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Referensi penjelasan detail : Ust.Khalid Basalamah        Ust. Syafiq Riza Basalamah ~~~~~~~~      Allah Ta'ala berfirman : وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ   ۝٥ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan²⁴ agama (ketaatan) kepadaNya juga menjadi orang-orang yang lurus,²⁵ dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikkan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Qs. Al-Bayyinah : 5). ___ ²⁴ Saya katakan, Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya niat dalam seluruh ibadah, baik ibadah tersebut memang tujuan utama seperti shalat misalnya, maupun hanya sebagai perantara untuk ibadah lainnya seperti bersuci. Hal itu karena ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat. Ini adalah madzhab mayoritas ulama, dan inilah yang benar, yang tidak ada keraguan tentangnya. ___ ²⁵ Y...

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 14 - Tanda-Tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah 10 tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul 10 tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain. Suatu saat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat para Shahābat sedang saling berbicara.      Maka Beliau bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”      Merekapun menjawab, “Kami sedang mengingat hari kiamat.”      Maka, Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ “Sesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut sampai kalian melihat sebelumnya 10 tanda-tanda.” Kemudian Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyebutkan 10 tanda tersebut. Asap Dajjal Daabbah (seekor hewan melata) Terbitnya...

#I.1 BERHENTI MENJADI "PEOPLE PLEASER !" - Tentang Kapan Harus Peduli dan Kapan Harus Tidak Ambil Pusing

Ajukan pertanyaan berikut kepada diri sendiri : Apakah saya stres, memiliki jadwal yang terlalu padat, dan/ atau merasa kewalahan ? Jika jawabannya "ya" untuk yang mana pun, berhentilah sejenak dan tanyakan : Mengapa ? Saya berani menebak jawaban yaitu : karena Anda terlalu banyak ambil pusing. Atau, lebih spesifik, karena Anda berpikir Anda wajib memusingkan semuanya. Saya siap membantu. Di sepanjang Artikel ini dan lanjutannya, Anda akan melihat istilah ambil pusing digunakan dalam dua cara : * Ada makna tidak formal dari sikap peduli terhadap sesuatu, yang dipertimbangkan untuk Langkah 1 (memutuskan apa yang tidak usah Anda pusingkan). * Ada makna harfiah dari sikap sungguh peduli kepada seseorang atau sesuatu, dalam bentuk waktu, energi, dan/ atau uang. Ini dipertimbangkan untuk Langkah 2 (tidak ambil pusing tentang semua itu). Dalam kedua makna tadi, cara satu-satunya untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik adalah dengan berhenti ambil pusing atas banyak di antarany...