Semakin jauh membaca tentang self-esteem, aku menemukan istilah lain yang ternyata sering dianggap sama, yaitu self-acceptance atau penerimaan diri.
Sekilas memang terdengar mirip.
Sama-sama berbicara tentang hubungan kita dengan diri sendiri. Tapi ternyata keduanya memiliki perbedaan yang cukup penting.
Self-Esteem: Bagaimana Kita Menilai Diri
Self-esteem lebih berkaitan dengan penilaian kita terhadap diri sendiri.
Kita melihat kemampuan, penampilan, perilaku, pencapaian, atau kualitas yang kita miliki, kemudian secara tidak sadar memberikan penilaian:
“Aku cukup baik.”
“Aku kurang pintar.”
“Aku berhasil.”
“Aku tidak sehebat orang lain.”
Artinya, ada proses mengevaluasi diri.
Dan dalam proses tersebut, kita sering kali menggunakan sesuatu sebagai pembanding.
Misalnya, kita merasa berhasil ketika pencapaian kita lebih baik dari sebelumnya. Atau sebaliknya, kita merasa kurang ketika melihat orang lain memiliki sesuatu yang menurut kita lebih baik.
Itulah mengapa self-esteem bisa berubah-ubah.
Hari ini kita mungkin merasa sangat percaya diri karena berhasil melakukan sesuatu. Besok, setelah melihat pencapaian orang lain, kita bisa kembali merasa tidak cukup.
Self-Acceptance: Menerima Diri Apa Adanya
Sementara itu, self-acceptance berbicara tentang sesuatu yang sedikit berbeda.
Penerimaan diri bukan berarti kita harus menganggap semua yang ada dalam diri kita baik atau sempurna.
Melainkan kemampuan untuk mengatakan:
“Ini adalah diriku. Ada hal yang aku sukai, ada yang masih perlu diperbaiki, dan semuanya merupakan bagian dari diriku.”
Kita tidak harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk menerima diri sendiri.
Kita juga tidak harus memenangkan perlombaan apa pun dibandingkan orang lain agar merasa layak.
Misalnya, kita punya kekurangan dalam penampilan.
Dengan self-esteem, kita mungkin bertanya:
“Apakah aku cukup cantik dibandingkan orang lain?”
Sedangkan dengan self-acceptance, kita belajar mengatakan:
“Inilah diriku. Aku boleh tetap merawat dan memperbaiki diri, tanpa harus membenci diriku yang sekarang.”
Menurutku, perbedaannya terasa cukup dalam.
Tidak Harus Membandingkan Diri
Salah satu hal yang paling menarik dari pembahasan ini adalah tentang perbandingan.
Kita sering kali menentukan nilai diri dengan melihat orang lain.
Ada yang lebih cantik.
Ada yang lebih pintar.
Ada yang lebih sukses.
Ada yang lebih kaya.
Ada yang lebih produktif.
Ada yang hidupnya terlihat lebih bahagia.
Tanpa sadar, kita menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur untuk menentukan apakah diri kita sudah cukup baik atau belum.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Penerimaan diri mengajak kita untuk tidak menjadikan perbandingan sebagai syarat untuk merasa berharga.
Kita tetap boleh belajar dari orang lain.
Kita tetap boleh berkembang.
Kita tetap boleh ingin menjadi versi diri yang lebih baik.
Tetapi proses bertumbuh itu tidak harus dimulai dari rasa benci terhadap diri sendiri.
Self-Esteem Bisa Naik Turun, Self-Acceptance Menjadi Tempat Kembali
Menurut pemahamanku, self-esteem lebih mudah berubah mengikuti keadaan.
Ketika mendapatkan pujian, kita mungkin merasa senang dengan diri sendiri.
Ketika berhasil mencapai sesuatu, kita merasa bangga.
Namun ketika mendapatkan kritik atau mengalami kegagalan, perasaan tersebut bisa berubah.
Sedangkan penerimaan diri memberikan sesuatu yang berbeda: hubungan yang lebih stabil dengan diri sendiri.
Kita tetap bisa kecewa terhadap diri sendiri tanpa membenci diri sendiri.
Kita bisa mengakui bahwa ada perilaku yang perlu diperbaiki tanpa menganggap seluruh diri kita buruk.
Kita bisa ingin berubah tanpa merasa bahwa diri kita saat ini tidak layak.
Jadi, Apa Perbedaannya?
Kalau aku mencoba menyederhanakannya:
Self-esteem bertanya:
“Seberapa baik aku?”
Sedangkan self-acceptance lebih seperti berkata:
“Ini adalah aku, dan aku bersedia menerima diriku sambil terus bertumbuh.”
Keduanya memang berhubungan, tetapi tidak sama.
Mungkin kita membutuhkan self-esteem untuk menyadari kemampuan dan kualitas yang kita miliki. Tetapi kita juga membutuhkan self-acceptance agar nilai diri kita tidak sepenuhnya bergantung pada pencapaian, penampilan, ataupun penilaian orang lain.
Karena kalau kita hanya merasa berharga ketika berhasil, lalu bagaimana ketika kita gagal?
Kalau kita hanya menyukai diri sendiri ketika terlihat baik, lalu bagaimana ketika kita sedang berada di titik terendah?
Di sinilah penerimaan diri menjadi penting.
Kita boleh ingin berubah tanpa membenci diri yang sekarang.
Kita boleh memperbaiki kekurangan tanpa merasa bahwa kita adalah manusia yang penuh kekurangan.
Dan kita boleh terus bertumbuh tanpa harus menunggu menjadi sempurna untuk akhirnya menerima diri sendiri.
𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂𝌁𝌂
Sumber bacaan:
Buku [Orang sukses selalu cari solusi, Orang gagal selalu cari alasan] — [@rumputjeruk].
Tulisan ini merupakan pemahaman dan refleksi pribadi setelah membaca bagian tersebut, ditulis kembali dengan bahasa sendiri.
Komentar
Posting Komentar