┈┈◅◁◈◈▷▻┈┈
ABU DZAR AL-GHIFARI
Perjalanan panjang Mencari Kebenaran
┈┈◅◁◈◈▷▻┈┈
Dari Abdullah bin ash-Shamit Rodhiyallahu 'anhu, ia mengatakan bahwa Abu Dzar Rodhiyallahu 'anhu menuturkan,
"Kami keluar dari kaum kami (Ghifar); dan mereka menghalalkan bulan haram. Aku keluar bersama adikku, Unais, dan ibu kami. Kami singgah di rumah paman kami (dari pihak ibu). Paman kami itu memuliakan kami dan berbuat baik kepada kami, sehingga kaumnya iri hati terhadap kami. Kata mereka (kepada paman kami itu), 'Apabila kamu pergi meninggalkan keluargamu, maka Unais pergi menemui mereka'. Kemudian pamanku datang lalu meyampaikan kepada kami apa yang dikatakan kepadanya. Mendegar hal itu kami mengatakan, 'Kebaikan yang Anda perbuat selama ini telah Anda cemari. Kami tidak bisa meneruskan hubungan lagi denganmu'.
Kemudian kami mendekati sekawan unta kami dan mengangkat barang bawaan kami ke atasnya lalu menungganginya. Sedangkan paman kami menutup wajahnya dengan pakaiannya sambil menangis. Kami pun pergi sehingga kami tiba di gerbang kota Makkah. Unais membangga-banggakan sekawanan unta kami dibandingkan unta lainnya. Kami lalu pergi kepada seorang dukun (sebagai hakim untuk memutuskan keduanya siapa yang lebih baik), lalu hakim tersebut menilai milik Unaislah yang terbaik. Lalu Unais datang kepada kami dengan membawa sekawanan unta kami bersama unta lainnya.
Ia mengatakan, 'Aku sudah melaksanakan shalat, wahai saudaraku, tiga tahun sebelum aku bertemu Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa sallam'. Aku bertanya, 'Untuk siapa?' Ia menjawab, 'Untuk Allah'. Aku bertanya, 'Ke mana kamu menghadap ?' Ia menjawab, 'Aku shalat Isya hingga ketika akhir malam, aku terhempas seolah-olah aku adalah sehelai pakaian (yang tergeletak), hingga matahari terbit'.
Dia berkata, 'Aku memiliki keperluan pergi ke Mekkah, berilah aku bekal'. Lalu dia pun berangkat hingga sampai di Makkah, dan cukup lama terlambat kembali kepadaku, tapi kemudian ia kembali, maka aku bertanya, 'Apa yang kamu lakukan di Makkah ?' Ia menjawab, 'Di Makkah aku bertemu dengan seorang laki-laki yang beragama seperti kamu, yang menyangka bahwa Allah telah mengutusnya (sebagai rasul)'. Aku bertanya, 'Apa yang dikatakan orang-orang ?' Mereka ada yang mengatakannya sebagai penyair, ada yang mengatakannya dukun dan ada juga yang mengatakannya seorang penyihir'.
Ketika itu Unais sendiri adalah seorang penyair.
Kata Unais, 'Aku telah mendengar ucapan-ucapan para dukun, tetapi ucapan orang ini tidak seperti ucapan mereka. Aku telah membandingkan ucapannya dengan cara (yang ditempuh) para penyair, tetapi tidak ada yang sesuai dengan ucapan seorang pun, bahwa itu syair. Demi Allah, ia benar dan mereka berdusta'.
Aku katakan, 'Berilah aku bekal untuk pergi ke Makkah dan melihat orang itu'. Aku pun tiba di Makkah, dan mencari orang yang paling lemah di antara mereka, lalu aku bertaya, 'Di manakah orang yang kamu katakan sebagai Shabi' (keluar dari agama moyangnya) itu ?' Orang itu mengisyaratkan kepadaku seraya mengatakan, '(Kamu) Shabi' . 'Maka penduduk lemah itu melepariku dengan batu dan tulang sehingga aku hatuh pinsan beberapa lama.
Ketika aku terbangun, seolah-olah aku batu merah karena banyaknya darah di tubuhku. Kemudian aku menuju sumur Zam-zam dan mebersihkan darah dari tubuhku dan minum airnya. Aku berada di tempat itu, wahai anak saudaraku, selama 30 hari 30 malam, tanpa memakan sesuatu pun selain air Zam-zam, hingga aku menjadi gemuk sehingga hilang lekukan perutku dan aku tidak pernah merasa lemah karena kelaparan.
Pada malam purnama yang terang benderang, ketika penduduk Makkah telah tidur lelap, tidak ada seorang pun yang thawaf di Ka'bah, selain dua orang wanita yang berdoa kepada patung Isaf dan Na'ilah.
Lalu keduanya datang kepadaku dalam thawaf keduanya, maka aku katakan, 'Menikahlah kalian dengan salah satunya'. Maka keduanya mendatangiku, maka aku katakan, 'Kemaluannya seperti kayu'. Kemudian keduanya pergi sambil mencaci maki dan mengatakan, 'Seandainya di sini ada seseorang dari para pembela kami'.
Lalu Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa sallam dan Abu Bakar menayakan apa yang terjadi kepada keduanya, saat keduanya turun. Beliau bertanya, 'Ada apa dengan kalian berdua ?' Keduanya menjawab, 'Ada orang yang meninggalkan agama nenek moyangnya di antara Ka'bah dengan penutupnya'. Beliau bertanya, 'Apa yang diucapkan kepada kalian berdua ?' Ia menjawab, 'Ia mengatakan kepada kami dengan ucapan yang tidak pantas'.
Rasulullah kemudian datang hingga mencium hajar Aswad, lalu beliau thawaf di Baitullah beserta sahabat beliau, kemudian mengerjakan shalat. Setelah menyelesaikan shalatnya, -Abu Dzar mengatakan, 'Akulah yang mulai mengucapkan, 'As-Salamu'alaika, ya Rasulallah !' Beliau menjawab, 'Wa'alaika wa rahmatullah'. Kemudian beliau bertanya, 'Siapa kamu ?' Aku menjawab, 'Aku seorang dari negeri Ghifar'.
Tapi, lanjut Abu Dzar, beliau menarik tangan beliau dan meletakkannya pada dahi beliau. Aku bergumam dalam hatiku, 'Mungkin beliau tidak suka jika aku menyebut Ghifar'. Aku pun pergi untuk memegang tangan beliau tapi sahabatnya menghalangiku, dan dia lebih tahu daripadaku. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya bertanya, 'Sejak kapan kamu berada di sini ?' Aku menjawab, 'Sejak 30 hari 30 malam yang lalu'. Beliau bertanya, 'Siapa yang memberimu makan ?' Aku menjawab, 'Aku tidak pernah memakan makanan kecuali air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga lekukan perutku hilang, dan aku tidak pernah lemah karena kelaparan'. Nabi bersabda, 'Air Zam-zam itu penuh keberkahan; ia adalah makanan yang mengenyangkan'.
Abu Bakar berkata, 'Wahai Rasulullah, izinkan aku malam ini untuk menjamunya'. Kemudian Rasulullah sholallahu 'alayhi wa sallam dan Abu Bakar pergi, dan aku ikut pergi bersama keduanya. (Setelah sampai rumahnya) Abu Bakar membuka pintu dan menyuguhkan kepada kami kismis Tha'if, dan itulah makanan pertama yang aku makan. Kemudian aku boleh pergi sesuaku.
Berikutnya aku datang kepada Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda, 'Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri yang memiliki banyak pohon kurma. Aku tidak melihatnya kecuali Yatsrib; apakah kamu sudi menyampaikan kepada kaummu tentang dakwahmu dan memberi pahala kepadamu karena mendakwahi mereka'.
Maka aku mendatangi Unais (saudaraku), maka ia bertanya, 'Apa yang kamu lakukan di sana ?' Aku menjawab, 'Yang aku perbuat ialah bahwasannya aku telah masuk islam dan beriman'. Unais berkata, 'Aku tidak membenci agamamu. Sebab aku sudah masuk islam dan beriman'. Lalu kami menemui ibu kami, maka ibu mengatakan, 'aku tidak membenci agama kalian. Sebab aku telah masuk Islam dan telah beriman'. Kemudian kami berangkat hingga datang pada kaum kami, Ghifar. Maka, sebagian dari suku Ghifar masuk Islam. Mereka dipimpin oleh Ima' bin Rukhshah al-Ghifar, seorang tetua mereka.
Sementara separuh dari suku Ghifar lainnya mengatakan, 'Jika kelak Rasulullah telah sampai di Madinah, maka kami akan masuk Islam, 'Setelah Rasulullah Sholallahu 'alayhi wa sallam tiba di Madinah, separuh dari suku Ghifar yang tersisa masuk ke dalam Islam. Mereka datang untuk masuk Islam seraya mengatakan, 'Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami telah masuk Islam, maka kami pun masuk Islam. 'Kemudian Rasulullah berdoa, 'Semoga suku Ghifar mendapatkan ampunan Allah, dan suku Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka dari siksaan Neraka'. "⁴³
❉❉❉❉❉
_____________⁴³ Muslim, no.2473
Komentar
Posting Komentar