KISAH ORANG SHALIH - ABDULLAH BIN RAWAHAH Rodhiyallahu 'anhu (Wahai Jiwa... Bila Tak Gugur di Medan Perang, Engkau Tetap Akan Mati)
┈┈◅◁◈◈▷▻┈┈
ABDULLAH BIN RAWAHAH Rodhiyallahu 'anhu
Wahai Jiwa... Bila Tak Gugur di Medan Perang, Engkau Tetap Akan Mati
┈┈◅◁◈◈▷▻┈┈
Urwah bin az-Zubair berkata (menuturkan),
"Ketika pasukan perang sudah siap untuk menuju Mu'tah, seseorang berkata kepada kaum Muslimin, 'Semoga Allah mencurahkan kebaikan pagi ini dan menolak keburukan dari kalian'. Curahkan kebaikan pagi ini dan menolak keburukan dari kalian'. Maka Abdullah mengucapkan bait-bait syair berikut ini,
Justru aku memohon ampun kepada Allah Yang Rahman
Dan sabetan beruntun yang menghantam kuat kerumunan
Atau tusukan di tanganku
Yang kuat dan terbidik siap
hingga menembus usus dan jantung
Hingga apabila mereka melewati jasadku
Mereka berkata,
Semoga Allah memberimu bimbingan
Karena ia telah memilih jalan yang lurus.
Pasukan Islam terus berjalan sehingga tiba di wilayah Syam. Kemudian sampai berita di tengah-tengah kaum Muslimin bahwa Heraklius telah tiba di Balqa' dengan 100.000 personil pasukan Romawi. Bahkan kabilah-kabilah Arab Musta'ribah ikut bergabung bersama mereka, seperti kabilah Lakham, Judzam, Bulqin, Bahra dan Balya yang berjumlah 100.000 pasukan.
Sementara pasukan Muslimin bertahan selama dua hari untuk mengatur strategi perang.
Di antara para sahabat ada yang mengusulkan, 'Kita menulis surat kepada Rasulullah Sholallahu 'Alayhi Wa Sallam untuk memberitahu beliau tenang jumlah pasukan musuh'.
Abdullah bin Rawahah tidak setuju, justru beliau memberi semangat kepada kaum Muslimin, 'Demi Allah, wahai kaum, sadarilah kembali bahwa perjuangan yang tidak engkau sukai kali ini adalah perjuangan yang kalian cari; yang kalian cari adalah mati syahid. Dan kita memerangi musuh bukan berdasar peralatan tentara, kekuatan musuh ataupun banyaknya jumlah mereka. Kita memerangi mereka hanyalah berdasarkan Agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita ... Majulah ...! Pasti yang akan kita peroleh adalah salah satu dari dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid'.
Kaum Muslimin menyambut, 'Demi Allah, sangat benar yang diserukan Ibnu Rawahah'. Lalu beliau keluar untuk untuk perjalanan beliau ke Mu'tah tersebut dan memboncengku di belakang unta beliau. Demi Allah, kami berjalan di malam hari, dan ketika itu aku mendengar beliau mengucapkan syair-syair berikut,
'Apabila engkau tungganganku telah mengantarkanku
Sejauh empat malam setelah tanah lapang ini
Maka engkau boleh leha-leha
Tidak ada lagi celaan padamu
Karena aku tidak akan pulang kepada keluargaku di belakangku
kaum Muslimin sendiri enggan
dan mereka meninggalkanku di negeri Syam
di tempat aku tidak ingin puang lagi
sekalipun setiap orang yang memiliki nasab dekat denganmu
akan menolakmu
Tetapi bila telah bertemu dengan ar-Rahman kelak
Terputuslas semua persaudaraan
Di sana, aku tidak peduli bila dari akar pohon atau kurma
Yang akan menjadi sumber minum'.
Setelah aku mendengar syair-syair tersebut, aku menangis. Kemudian Abdullah mencolekku dengan pecut, 'Bukanlah tanggung jawab atasmu wahai Luka', bahwa Allah akan memberiku mati syahid, sementara kamu pulang ke kaumku dengan membawa tunggangan ini".
Kembali kepada kisah di atas,
"Setelah dua panglima pasukan Muslimin gugur sebagai syahid, Abdullah bin Rawahah tampil menggantikan keduanya. Beliau memposisikan dirinya sebagai panglima dan berusaha menenangkan diri setelah beberapa saat muncul keraguan, dan ketika itu dia berseru,
'Aku bersumpah dengan Nama Allah,
Engkau harus maju (wahai diriku)
dengan suka maupun terpaksa
Manusia telah berteriak dan berkumpul (siap bertempur)
Dan mereka telah semakin keras mengucapkan tarji'
Tapi kenapa sepertinya engkau tidak suka Surga
Panjang sudah penantian
Kini tiba sudah kesempatan
Yang dulu membuatmu tenang
Engkau bukanlah sesuatu (wahai diriku)
Setetes air hina dalam balutan kulit kering'.
Abdullah bin Rawahah juga berkata,
Wahai diri,
jika engkau tidak gugur terbunuh (di medan perang)
engkau tetap akan mati (di tempat tidur)
Inilah pembawa kematian telah engkau jumpai
Dan apa yang kau idam-idamkan telah diberikan padamu
Jika engkau ikuti jejak keduanya (dua panglima sebelumnya)
Engkau telah mendapatkan petunjuk (kepada pilihan benar)
Tapi jika engkau mundur, engkau pasti sengsara.
Ketika ia telah berada di tengah medan pertempuran, keponakannya datang membawa daging, sambil berkata, 'Isilah perutmu dengan ini, karena sudah beberapa hari ini Anda telah menghadapi masalah berat seperti ini'. Maka beliau mengambilnya dari tangannya lalu mengunyahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara serangan yang hebat dari arah lain, ia berkata pada dirinya, 'Engkau masih juga di dunia?' Lalu ia melemparkan daging itu dan mengambil pedangnya, lalu merengsek maju menyerang musuh sehingga terbunuh. Semoga Allah meridhainya".³⁸
❉❉❉❉❉
__________³⁸ Al-Hilyah, 1/118.
Komentar
Posting Komentar