Langsung ke konten utama

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 41 - Pertanyaan Ketika Hisab

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ...


الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين

ꜜꜜꜜ

   Ketika hisab, Allah Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah.

Allah akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.
    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Tidaklah diantara kalian kecuali Rabb-nya akan berbicara kepadanya, tidak ada antara dia dengan Allah penerjemah. Dia akan melihat sebelah kanannya maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma". (HR Bukhari dan Muslim, shahih)

    Adapun hadits yang berisi bahwasanya ada 3 golongan yang Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, (yaitu):

  1. Orang yang mengungkit-ungkit pemberian.
  2. Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu.
  3. Orang yang musybil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki (yaitu bagi laki-laki). (HR Muslim, shahih)

⇒ Maka yang dimaksud hadits ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridha, tetapi Allah Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

Diantara hal yang ditanyakan di hari kiamat adalah:
➠ Pertama, Tentang Tauhid Kita kepada Allah Subhānahu Wa Ta’āla
    Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
“Maka sungguh Kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka (para Rasul) dan sungguh kami akan tanya para Rasul.” (QS Al A’raf: 6)

    Kita akan ditanya bagaimana kita menjawab ajakan Rasul dan ajakan Rasul yang paling besar adalah Tauhid.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah,

 Ke Dua, Kenikmatan yang Allah Berikan kepada Kita di Dunia
    Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ
“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS At Takatsur: 8)

⇒ Diantara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman, bagaimana pun sederhananya di pandangan manusia.

    Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankah kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?” (HR Tirmidzi, shahih)

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Tidak akan bergerak dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang:

  1. Umurnya untuk apa dia gunakan.
  2. Dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan.
  3. Dan akan ditanya tentang hartanya darimana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan.
  4. Dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan. (HR Tirmidzi, shahih)

    Orang yang mensyukuri nikmat tersebut dialah yang akan selamat; mensyukuri dengan hati, lisan, maupun perbuatan.

  • Hatinya mengakui kenikmatan tersebut bahwasanya itu adalah dari Allah.
  • Lisannya bersyukur dan memuji Allah Subhānahu wa Ta’āla
  • Dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.

    Diantara hal yang akan ditanyakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika hisab adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

    Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al Isra: 36)

    Dengan demikian hendaklah seorang Muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allah haramkan.

Diantara yang akan ditanyakan adalah “perjanjian”.

    Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬
“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan.” (QS Al Isra: 34)

    Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allah maupun kepada makhluk.
Seorang Muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

    Diantara hal yang akan ditanyakan adalah tentang “amanat” yang telah Allah berikan kepada kita.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
    “Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut.
Seorang imam atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.
    Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.
    Seorang ibu adalah penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga.
    Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.

(HR Bukhari dan Muslim, shahih)

    Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allah untuk menegakkan hukum-hukum Allah atas rakyatnya dan berbuat adil.

    Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

    Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami, dan lain-lain.

    Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

    Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allah perintahkan.

Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin,
Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi,
Baik sebagai seorang suami maupun seorang istri,
Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak,
Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain.

Masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

** Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

و السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIYADHUSH SHALIHIN - BAB IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT DALAM SEGALA PERBUATAN, PERKATAAN, DAN KEADAAN, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN YANG TERSEMBUNYI

Referensi penjelasan detail : Ust.Khalid Basalamah        Ust. Syafiq Riza Basalamah ~~~~~~~~      Allah Ta'ala berfirman : وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ   ۝٥ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan²⁴ agama (ketaatan) kepadaNya juga menjadi orang-orang yang lurus,²⁵ dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikkan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (Qs. Al-Bayyinah : 5). ___ ²⁴ Saya katakan, Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya niat dalam seluruh ibadah, baik ibadah tersebut memang tujuan utama seperti shalat misalnya, maupun hanya sebagai perantara untuk ibadah lainnya seperti bersuci. Hal itu karena ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat. Ini adalah madzhab mayoritas ulama, dan inilah yang benar, yang tidak ada keraguan tentangnya. ___ ²⁵ Y...

HSI-SILSILAH 05 - HALAQOH 14 - Tanda-Tanda Besar Dekatnya Hari Kiamat

 السّلام عليكم ورحمة الله و بر كاته  ... الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على اله و صحبه اجمعين ꜜꜜꜜ Tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat adalah 10 tanda menjelang datangnya hari kiamat. Yang apabila sudah muncul 10 tanda tersebut, maka akan terjadilah hari kiamat. Tanda-tanda besar tersebut apabila muncul satu, maka akan segera diikuti oleh yang lain. Suatu saat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam melihat para Shahābat sedang saling berbicara.      Maka Beliau bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”      Merekapun menjawab, “Kami sedang mengingat hari kiamat.”      Maka, Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ “Sesungguhnya tidak akan bangkit hari kiamat tersebut sampai kalian melihat sebelumnya 10 tanda-tanda.” Kemudian Beliau Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyebutkan 10 tanda tersebut. Asap Dajjal Daabbah (seekor hewan melata) Terbitnya...

#I.1 BERHENTI MENJADI "PEOPLE PLEASER !" - Tentang Kapan Harus Peduli dan Kapan Harus Tidak Ambil Pusing

Ajukan pertanyaan berikut kepada diri sendiri : Apakah saya stres, memiliki jadwal yang terlalu padat, dan/ atau merasa kewalahan ? Jika jawabannya "ya" untuk yang mana pun, berhentilah sejenak dan tanyakan : Mengapa ? Saya berani menebak jawaban yaitu : karena Anda terlalu banyak ambil pusing. Atau, lebih spesifik, karena Anda berpikir Anda wajib memusingkan semuanya. Saya siap membantu. Di sepanjang Artikel ini dan lanjutannya, Anda akan melihat istilah ambil pusing digunakan dalam dua cara : * Ada makna tidak formal dari sikap peduli terhadap sesuatu, yang dipertimbangkan untuk Langkah 1 (memutuskan apa yang tidak usah Anda pusingkan). * Ada makna harfiah dari sikap sungguh peduli kepada seseorang atau sesuatu, dalam bentuk waktu, energi, dan/ atau uang. Ini dipertimbangkan untuk Langkah 2 (tidak ambil pusing tentang semua itu). Dalam kedua makna tadi, cara satu-satunya untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik adalah dengan berhenti ambil pusing atas banyak di antarany...